Game Recehan dan Anak Muda yang Hilang di Dunia Virtual

Game Recehan dan Anak Muda yang Hilang di Dunia Virtual

Ketika game di ponsel mulai membayar manusia untuk menonton iklan, dan anak muda merasa telah bekerja, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan seberapa besar penghasilan mereka, tapi seberapa jauh mereka telah melupakan bau laut dan suara cangkul.

Di suatu sore yang sunyi, di beranda rumah panggung yang reot di Maros, saya memergoki adik sepupu saya yang belum genap dua puluh tahun sedang tersenyum sendirian sambil menatap layar ponsel.

Jemarinya lincah, tapi bukan sedang mengetik puisi atau membalas chat gebetan. Ia sedang “bekerja”—begitu katanya—dengan memainkan sebuah game yang katanya menghasilkan uang.

“Berapa kamu dapat dari situ?” tanya saya.

Ia menjawab dengan bangga, “Dua ribu, Kak, tadi pagi. Sekarang mau capai lima ribu.”

Saya mengangguk. Di satu sisi ingin tertawa, di sisi lain ingin menangis. Dua ribu rupiah di tahun 2025 sama nilainya dengan satu batang gorengan dan separuh harga kuota internet harian.

“Ini bukan main game biasa, Kak. Ini bisnis,” katanya, seperti sudah ikut seminar MLM online.

Dan ketika saya coba mainkan sendiri gamenya, saya menemukan bahwa bukan dari permainannya penghasilan itu berasal, tapi dari iklan—ya, iklan yang diputar setiap kali kita selesai menekan tombol tertentu. Iklannya panjang-panjang, beberapa bahkan penuh janji: investasi emas digital, pinjaman online, sampai kursus cara jadi crazy rich dalam tujuh hari.

Dalam hati saya bergumam, “Beginikah wajah pekerjaan di masa depan?” Pekerjaan yang membuatmu duduk diam, menghabiskan kuota, dan berharap mendapat recehan dari setiap iklan yang kau tonton.

Kita tidak lagi menghasilkan sesuatu yang bisa disentuh, dimakan, atau dipakai. Kita hanya menjadi titik data di antara ribuan pengguna pasif yang diberi ilusi bahwa menatap layar adalah pekerjaan produktif.

Ini bukan sekadar persoalan moral atau etos kerja.

Ini soal arah.

Karena yang hilang dari cerita ini bukan cuma waktu dan kuota, tapi juga “pengalaman hidup”.

Dulu, anak muda desa merasa berharga ketika bisa membantu ayahnya di sawah, atau membawa pulang hasil laut. Sekarang, mereka merasa keren saat saldo “dompet digital” mereka naik dari Rp2.000 menjadi Rp3.000.

Dan kita diam-diam bangga karena mereka “sudah bisa menghasilkan sendiri dari HP”.

Dalam “The Shallows” (2010), Nicholas Carr menulis bahwa teknologi digital telah mengubah cara manusia berpikir. Kita tak lagi berpikir dalam-dalam, tapi hanya memindai, melompat, dan menyingkat. Kalau bisa dapat uang sambil tidak berpikir, mengapa harus repot?

Tapi saya yakin, di pojok-pojok negeri ini, masih ada ibu-ibu yang menjual pisang goreng di pinggir jalan dan tidak tahu cara download aplikasi. Masih ada kakek-kakek yang bangun pagi menanam kacang panjang, bukan karena tahu soal e-commerce, tapi karena tahu rasa lapar.

Dan di sinilah letak paradoksnya: mereka yang hidup nyata, bekerja nyata, justru tidak pernah merasa bekerja dalam pengertian “modern”. Sementara generasi baru merasa telah bekerja hanya karena bermain game dan menonton iklan dengan iming-iming hadiah harian.

Saya jadi teringat kata-kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: “Sesungguhnya kesibukan dengan sesuatu yang tak bermanfaat adalah awal dari kerugian besar.” Tapi siapa yang hari ini masih peduli pada manfaat? Yang penting, katanya, bisa dicairkan ke e-wallet.

Yang tak terpikir adalah: apakah Rp5.000 per hari itu sebanding dengan kuota 2GB yang harus dibeli seharga Rp10.000? Apakah pekerjaan yang membiarkanmu duduk berjam-jam tanpa interaksi sosial dan tanpa menciptakan satu pun barang nyata itu benar-benar pekerjaan?

Saya teringat laut. Dulu, paman saya bangga membawa pulang ikan dua ember meski kulitnya terbakar matahari. Hari ini, anak paman itu lebih bangga dapat voucher game karena “klaim harian berhasil”.

Saya juga teringat kebun. Tempat yang dulu membuat tubuh kami lelah, tapi membuat dapur tetap mengepul. Kini, kebun dibiarkan kosong, ditumbuhi semak dan kenangan.

Bahkan Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menulis tentang keutamaan bekerja dengan tangan sendiri. Tangan yang memegang cangkul, bukan layar. Tangan yang memanen cabai, bukan menggeser notifikasi pop-up.

Tapi realitas kita sedang berubah.

Lebih tepatnya: “dibengkokkan”. Kita dijejali ide bahwa pekerjaan itu tak harus produktif, asal terhubung dengan internet. Bahwa penghasilan tak perlu stabil, asal bisa dipamerkan. Bahwa peran manusia bukan lagi menciptakan, tapi cukup hadir sebagai penonton yang bisa dikomersialkan.

Dalam “Digital Minimalism” (2019), Cal Newport mengingatkan: “Ketika sesuatu gratis, berarti kitalah produknya.” Maka tak heran kalau kita tak pernah benar-benar untung dari game-game penghasil uang itu—kita justru sedang dijual: waktu kita, perhatian kita, dan yang paling tragis, “masa depan kita”.

Saya tidak anti pada teknologi. Tapi saya cemas.

Cemas pada generasi muda yang lebih hafal cara membuat akun palsu untuk aplikasi penghasil saldo, daripada cara menanam singkong atau menangkap ikan di sungai.

Cemas pada anak-anak yang lebih paham algoritma iklan daripada arah angin untuk berlayar.

Cemas pada mentalitas “asal dapat uang” yang tidak lagi peduli dari mana uang itu berasal, berapa ongkos batin yang dibayar, dan ke mana arah hidup dibawa.

Padahal Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam “Miftah Dar al-Sa’adah” menulis: “Orang yang hidup dengan arah dan tujuan akan tetap kuat meski diuji, sementara yang hidup tanpa arah akan roboh oleh hal remeh.”

Dan betapa banyaknya yang roboh hari ini, bukan karena musibah, tapi karena godaan recehan digital yang dibungkus janji palsu.

Lalu, ke mana harus kita arahkan anak-anak muda kampung?

Saya tidak punya solusi instan, karena ini bukan soal satu-dua aplikasi. Ini soal paradigma hidup.

Tapi barangkali kita bisa mulai dari hal yang sederhana: menghidupkan kembali laut dan kebun sebagai sumber kebanggaan. Mengembalikan nilai pada pekerjaan nyata. Membuat anak muda merasa keren bukan karena saldo GoPay-nya, tapi karena berhasil menanam dan menjual hasil panennya.

Mungkin kita bisa buat komunitas “digital petani muda”. Bukan untuk main game penghasil uang, tapi untuk menjual produk dari desa ke kota. Mungkin kita bisa dorong desa gaming bukan sebagai tempat mengumpulkan recehan, tapi sebagai laboratorium membuat game edukatif berbasis kearifan lokal.

Dan mungkin, sebelum semua itu, kita perlu ajak mereka duduk sejenak, tanpa layar. Lalu tanya pelan-pelan: “Kalau semua uang bisa didapat dari menatap HP, kenapa petani tetap miskin dan produsen kuota makin kaya?”

Karena sesungguhnya, dalam dunia digital yang makin cepat ini, kita tak butuh kecepatan baru—kita butuh arah baru.

Dan saya masih percaya: laut tak pernah membohongi nelayan, dan tanah tak pernah ingkar pada petani. Tapi layar—ah, layar kadang terlalu licin untuk digenggam dengan nurani.

~~~

Makassar. 15 Juli 2025

Referensi:

1. Carr, Nicholas. “The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains”. W. W. Norton & Company, 2010.

2. Newport, Cal. “Digital Minimalism”. Portfolio, 2019.

3. Al-Ghazali. “Ihya’ Ulumuddin”, Beirut: Dar al-Fikr.

4. Imam Nawawi. “Riyadhus Shalihin”.

5. Ibn Qayyim al-Jawziyyah. “Miftah Dar al-Sa’adah”.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *